Tanggungjawab guru tidak hanya dituntut untuk memiliki pemahaman/kemampuan dalam bidang pengajaran, tetapi juga dalam bidang bimbingan. Dengan memahami konsep bimbingan guru diharapkan mampu berfungsi sebagai fasilitator perkembangan siswa baik menyangkut aspek intelektual, emosional, sosial maupun moral spiritual.

Bimbingan di sekolah dapat digolongkan ke dalam bimingan belajar, pribadi, sosial dan juga karier. Walaupun secara teoretis keempat jenis bimbingan itu dapat dibedakan, tetapi dalam pratik satu sama lain akan terkait erat dan tak dapat dibedakan, dan tak dapat dipilah-pilah secara tegas.

Jika dilihat dari target populasi khusus,  bimbingan di sekolah dasar selain melayani anak normal pada umumnya juga sangat mungkin dituntut untuk melayani anak atau peserta didik yang  berbakat, berkesulitan belajar, dan berperilaku bermasalah.

Bimbingan belajar

Bimbingan belajar diarahkan kepada upaya membantu peserta didik dalam mempelajari konsep dan keterampilan yang terkait dengan program kurikuler sekolah. Bimbingan belajar di sekolah akan terpadu dengan proses pembelajaran yang berorientasi kepada perkembangan peserta didik.

Bimbingan pribadi

Bimbingan pribadi lebih terfokus kepada upaya membantu peserta didik mengembangkan aspek-aspek kepribadian yang menyangkut pemahaman diri dan lingkungan, kemampuan memecahkan masalah, konsep diri, kehidupan emosi, dan identitas diri. Layanan bimbingan pribadi amat erat kaitannya dengan membantu peserta didik menguasai tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembangannya.

Bertolak dari orientasi ekologi perkembangan manusia dalam bimbingan, peran guru dalam membantu perkembangan pribadi peserta didik adalah sebagai berikut ini.

1)   Bersikap peduli terhadap anak

Sikap peduli mengandung arti memberi perhatian penuh kepada peserta didik sebagai seorang pribadi dan memahami apa yang terjadi pada dirinya. Sikap seperti ini memungkinkan guru mampu menyentuh dunia kehidupan individual peserta didik dan terbentuknya suatu relasi yang bersifat membantu (helping relationship).

2)   Bersikap konsisten

Sikap konsisten ialah bagaimana membantu peserta didik untuk merasakan konsekuensi tidaknya, dan bukan karena kesamaan perlakuan yang diberikan guru.

3)   Mengembangkan lingkungan yang stabil

Guru harus berupaya mengembangkan struktur program dan tatanan yang dapat menumbuhkan perasaan peserta didik bahwa dirinya hidup dalam dunia yang memiliki keteraturan, stabilitas, dan tujuan.

4)   Bersikap permisif

Sikap permisif ialah memberikan keleluasaan dan menumbuhkan keberanian peserta didik untuk menyatakan diri dan menguji kemampuannya, serta bersikap toleran terhadap kekeliruan dan keragaman perilaku peserta didik.

Bimbingan sosial

Jika Anda amati anak-anak yang ada di kelas, katakanlah sebanyak 30 orang, mungkin mereka tidak berbentuk kelompo k melainkan hanya sekumpulan individu dengan minat, kebutuhan, dan tujuan yang berbeda. Interaksi satu sama lain bisa jadi masih didasarkan atas orientasi egosentris dan belum merupakan interaksi sosial di dalam kelompok.

Peran penting yang perlu dimainkan guru dalam kaitannya layanan bimbingan sosial ialah mengembangkan atmosfir kelas. Atmosfir kelas yang kondusif bagi perkembangan sosial ialah yang dapat menumbuhkan :

1)   Rasa turut memiliki kelompok, ditandai dengan indentifikasi, loyalitas, dan berorientasi pada pemenuhan kewajiban kelompok;

2)   Partisipasi kelompok, ditandai dengan kerja sama, bersikap membantu, dan mengikuti aturan main;

3)   Penerimaan terhadap keragamaan individual dan kelompok; dan menghargai keistimewaan orang lain.

Untuk menumbuhkan atmosfir kelas seperti itu, upaya yang dapat dilakukan guru dalam proses pembelajaran ialah mengembangkan pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang bergantung kepada  kelompok kerja kecil yang mengkombinasikan: (1) tujuan kelompok atau dukungan tim, (2) tanggung jawab individual, dan (3) kesamaan kesempatan untuk sukses (James M. Cooper, 1990).

Bimbingan karier

Bimbingan karier di sekolah diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman peserta didik akan ragam kegiatan dan pekerjaan di dunia sekitarnya, pengembangan sikap positif terhadap semua jenis pekerjaan dan orang lain, dan pengembangan kebiasaan hidup yang positif.

Bailey dan Nihlen (1989) menyarankan program pengembangan kesadaran karier di sekolah, khususnya di sekolah lanjutan hendaknya dikembangkan secara terpadu dan mencakup hal-hal berikut ini.

1)     Informasi yang difokuskan kepada tanggung jawab dan struktur pekerjaan.

2)     Penyediaan waktu dan kesempatan bagi peserta didik untuk berbagai pengetahuan tentang dunia kerja dan pengalaman yang diperolehnya dari orang-orang sekitar tentang berbagai pekerjaan.

3)     Kesempatan bagi peserta didik untuk berinteraksi dengan  orang-orang yang bekerja di sekitarnya. Interaksi ini, akan menjembatani anak dengan dunia kerja.

4)     Kesempatan bagi peserta didik untuk mengetahui bagaimana orag merasakan pekerjaan atau profesi yang dipilihnya.

5)     Kesempatan bagi peserta didik untuk mengenali peran faktor jenis (gender) dalam pekerjaan.